Beranda Berita Upacara Jamasan, Bupati Ony Jelaskan Makna dan Perlambang dari 4 Pusaka Ngawi

Upacara Jamasan, Bupati Ony Jelaskan Makna dan Perlambang dari 4 Pusaka Ngawi

149
0

NGAWI – Leluhur bangsa Indonesia memiliki senjata yang dijadikan sebagai pusaka. Disamping sebagai alat pelindung diri, juga menjadi suatu perlambang. Tidak terkecuali di Kabupaten Ngawi. Kota ramah ini memiliki pusaka berupa tombak dan payung.

Pusaka Kabupaten Ngawi, yakni Tombak Kyai Singkir, dan Tombak Kyai Songgo Langit. Serta dua buah payung yang diberi julukan Songsong Agung Tunggul Warana, dan Songsong Agung Tunggul Wulung.

Setiap satu tahun sekali, pusaka-pusaka itu dijamas atau disucikan. Upacara jamasan, dilaksanakan setiap jelang peringatan hari jadi Kabupaten Ngawi, setelah sebelumnya para pejabat melakukan ziarah makam leluhur.

Pusaka-pusaka itu bukan sembarang senjata peninggalan leluhur. Namun juga menjadi perlambang yang sarat makna.

Hal itu seperti yang disampaikan oleh Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono. Kepada awak media, Bupati dari PDI Perjuangan tersebut membeberkan sejumlah fakta dari pusaka tersebut.

“Pusaka itu menjadi perlambang dari kesejahteraan, kemakmuran, dan keamanan Kabupaten Ngawi,” katanya usai mengikuti upacara jamasan, di Pendapa Wedya Graha, pada Selasa (5/7/2022).

Soal perlambang itu, Bupati Ony menyebut bahwa Ngawi sejak dahulu telah diproyeksi sebagai daerah yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Subur makmur. Hal itu relevan hingga sekarang. Ngawi termasuk daerah utama penghasil padi skala nasional.

“Ngawi sebagai lumbung pangan. Hal itu menjadi simbolisasi dari kemakmuran dan kesuburan,” ungkapnya.

Bupati Ony mengatakan, pusaka-pusaka peninggalan leluhur itu sebagai simbol perjuangan para pendahulu saat menghadapi VOC Belanda.

Adapun soal rangkaian prosesi jamasan yang sakral, Bupati Ony menilai hal itu sebagai sebuah tradisi dan budaya. Tugas generasi penerus, merawat dan melestarikannya.

“Bukan berarti syirik dan lainnya, karena ini budaya, kita nguri-uri budaya yang baik. Pusaka-pusaka itu pernah menjadi saksi sejarah. Kita melestarikan agar generasi penerus tahu dengan sejarah para pendiri bangsa,” ujarnya.

Sebelum upacara sakral jamasan, pusaka-pusaka tersebut diambil oleh sejumlah pejabat Kabupaten Ngawi. Bupati dan Wakil Bupati, Ony Anwar Harsono dan Dwi Rianto Jatmiko, beserta Ketua DPRD, Heru Kusnindar bersama sejumlah pejabat Ngawi berjalan beriringan menuju tempat penyimpanan pusaka.

Seluruh peserta mengenakan pakaian adat Jawa, beskap, lengkap dengan blangkon menutup kepala. Bagi tamu undangan perempuan, mengenakan kebaya Jawa.

Pusaka-pusaka itu kemudian diarak menuju tempat penjamasan di beranda Pendapa Wedya Graha Kabupaten Ngawi. Diiringi dengan Gending Jawa yang melantun sejak prosesi awal bermula.

Di lokasi jamasan, sudah menanti seorang sesepuh yang akan melakukan penyucian pusaka dengan air bunga beserta perlengkapannya.

Sedari awal penjemputan pusaka, hujan mengguyur wilayah Kabupaten Ngawi. Hujan disertai angin kencang makin lebat tatkala pusaka tiba di lokasi jamasan, hingga proses penyucian selesai.

Hujan mulai agak reda sesaat sesudah proses jamasan pusaka. Dan baru benar-benar berhenti, setelah pusaka-pusaka itu diberangkatkan menuju Pendapa Desa Ngawi Purba untuk diinapkan semalam.

Sebelum kemudian dikembalikan lagi ke Pendapa Wedya Graha dengan kirab pada esok harinya, dalam rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Ngawi ke-664 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here