Beranda Berita Surat-Surat Islam Dari Endeh

Surat-Surat Islam Dari Endeh

412
0

Selama masa pembuangan di Ende, Flores (1934-1938), Bung Karno rajin membaca dan mempelajari buku-buku Islam, serta menulis artikel tentang hukum, sejarah dan peran Islam. Bung Karno melakukan korespondensi dengan A. Hassan, tokoh organisasi Persatuan Islam (Persis) yang beralamat di Bandung. Surat menyurat antara keduanya berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936.

Surat-surat tersebut; pertama tertanggal 1 Desember 1934, kedua 25 Januari 1935, ketiga 26 Maret 1935, keempat 17 Juli 1935, kelima 15 September 1935, keenam 25 Oktober 1935, ketujuh 14 Desember 1935, kedelapan 22 Pebruari 1936, kesembilan 22 April 1936, kesepuluh 12 Juni 1936, kesebelas 18 Agustus 1936, dan kedua belas tertanggal 17 Oktober 1936.

Mula-mula Bung Karno meminta kepada saudara-saudaranya di Persis agar dikirimi buku-buku. Kemudian surat-surat itu jadi sederet diskusi tentang keadaan umat Islam di Indonesia dan dunia.

“Jika saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku tersebut di bawah ini. 1. Pengajaran Salat, 2. Utusan Wahabi, 3. Al-Muchtar. 4. Debat Talqin, 5. Al-Burhan komplit, 6. Al-Djawahir. Kemudian daripada itu, jika saudara-saudara ada sedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal sayid. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini.” Demikian penggalan surat pertama Bung Karno dari Ende, 1 Desember 1934, kepada A. Hassan.

Surat-surat di atas dihimpun dan diterbitkan oleh A. Hassan dengan judul, “Surat-Surat Islam Dari Endeh” (Persatuan Islam – Bandung: 1936). Surat-menyurat yang kemudian dikenal sebagai “Surat-Surat Islam dari Ende” tersebut juga dimuat di dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid 1. Adapun surat-surat tersebut berisi kritik dan kupasan mengenai keadaan kehidupan Islam serta Umatnya, masalah-masalah sosial, pendidikan Islam, Politik kenegaraan dalam Islam dan lain sebagainya.

Bung Karno menganggap bahwa Islam is progress. Islam itu Kemajuan. Dalam salah satu suratnya Soekarno menuliskan, ia tak senang dengan sebagian kalangan Islam yang gemar melontarkan kata-kata dan tudingan kafir. Ia melihat hal tersebut justru menghambat kemajuan umat Islam.

“Kita royal sekali dengan perkataan kafir. Pengetahuan barat (dibilang) kafir, radio dan kedokteran -kafir, pantolan dan dasi dan topi-kafir, sendok dan garpu dan kursi-kafir, tulisan latin-kafir, ya pergaulan dengan bangsa yang bukan Islam pun-kafir…Astaghfirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan,” tulis Bung Karno, 18 Agustus 1936

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here