Beranda Berita Jokowi Masih Meyakini Daya Beli Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Jokowi Masih Meyakini Daya Beli Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

279
0

Presiden Jokowi dalam pidato Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,5 hingga 5,5 persen.

Proyek ini dinilai berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 yang diperkirakan berada di kisaran minus 1,1 persen hingga 0,2 persen. Jokowi optimis bahwa perekonomian di tahun depan dapat tumbuh positif dan naik dibandingakan dengan tahun ini.

“Tingkat pertumbuhan ekonomi ini diharapkan didukung oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama,” kata Jokowi.

Menurutnya, bantuan dan insentif yang saat ini sedang gencar digerakkan pemerintah dapat mendorong daya beli masyarakat yang sebelumnya mengalami perlambatan akibat penutupan tempat usaha selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kuartal kedua.

‘Kita harapkan stimulus-stimulus ini mendorong daya beli. Konsumsi domestik kita juga akan naik,” kata Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga berharap, inflasi sepanjang tahun 2021 akan tetap terjaga pada tingkat 3 persen, untuk mendukung daya beli masyarakat,” ujar jokowi

Namun, dirinya pun sadar bahwa ketidakpastian global dan domestik masih akan terus terjadi tahun depan.

“Karenanya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang,” tambah Jokowi.

Menurutnya, kebijakan APBN 2021 pastinya akan mengantisipasi ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia, volatilitas harga komoditas, serta perkembangan tatanan sosial ekonomi dan geopolitik, termasuk efektivitas pemulihan ekonomi nasional, serta kondisi dan stabilitas sektor keuangan.

Meskipun perekonomian tahun depan diprediksi akan membaik, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menilai Indonesia mesti tetap waspada. Pasalnya, di kuartal II 2020 lalu, kontraksi perekonomian lebih dalam dibandingkan dengan proyeksi pemerintah yang dimana dampaknya dikhawatirkan akan terjadi dalam jangka yang panjang.

Pada kuartal II-2020, kinerja perekonomian RI mengalami kontraksi alias minus 5,32 persen. Jika kuartal III-2020 kembali minus, maka Indonesia akan bergabung dengan negara lain yang telah masuk ke jurang resesi.

“Melihat tekanan kuartal II yang sangat dalam, kuartal III harus diusahakan tidak hanya dari pemerintah namun dari pelaku usaha hingga seluruh lapisan masyarakat. Meski, pemerintah pemegang peran besar dalam pemulihan ekonomi ini,” tegas Sri Mulyani.

Sebelumnya, ia pun telah memangkas arget pertumbuhan ekonomi 2020. Dari semula minus 0,4 persen sampai 1 persen, kini menjadi minus 1,1 persen sampai 0,2 persen yang semakin mendekati nol persen.

“Untuk mencapai pertumbuhan sebelum pandemi (di kisaran 5 persen) hal itu cukup sulit. Saat ini, pemerintah terus berupaya agar pertumbuhan ekonomi kuartal IV bisa positif setelah kontraksi di kuartal II dan berpotensi tetap negatif di kuartal III-2020,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here