Beranda Berita Mensos Risma Gelar Pelatihan Rehabilitasi untuk Penyandang Disabilitas Usia Anak

Mensos Risma Gelar Pelatihan Rehabilitasi untuk Penyandang Disabilitas Usia Anak

108
0

Kementerian Sosial (Kemensos) telah menggelar pelatihan rehabilitasi sosial kolaboratif antarprofesi untuk penanganan penyandang disabilitas usia anak.

“Saya ingin ada pelatihan ini bagi terapis supaya mereka yakin bisa mengembalikan fungsi fisik bagi anak-anak yang mengalami kondisi disabilitas. Jadi karena itu silahkan belajar, saya berharap tidak perlu malu dan takut untuk menanyakan apa saja yang diperlukan,” kata Menteri Sosial Tri Rismaharini dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin, (12/06/2023).

Risma menyebut pelatihan yang diadakan itu bisa jadi penunjang pelayanan langsung dalam rehabilitasi sosial menurut Permensos Nomor 7 Tahun 2022 tentang pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas, yaitu terapi fisik, terapi psikososial dan terapi mental spiritual.

Penguatan keterampilan dan kemampuan terapis akan membangun kapasitas penyandang disabilitas, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan mengurus diri sendiri sesuai dengan kemampuan dan mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari di tengah keluarganya.

“Tapi dalam penanganan penyandang disabilitas, perlu penanganan kolaboratif antarprofesi, yaitu melibatkan fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, ortotis prostetis, ortopedis, perawat, pekerja sosial dan psikolog,” ujarnya.

Risma menambahkan upaya kolaboratif antarprofesi ini penting untuk menajamkan asesmen komprehensif agar kebutuhan penerima manfaat terpenuhi secara tepat dan tuntas. Terbukti dari beberapa kasus yang ditemui Mensos di NTT dan wilayah lainnya di Indonesia pun bisa ditangani.

Baca juga: Kemensos minta anggaran 2024 ditambah sebab tantangan sosial kompleks

Fasilitator dari Poltekes Surakarta Bambang Trisnowiyanto melanjutkan bahwa dalam penanganan penyandang disabilitas ini tidak hanya pada ranah hospital setting, tetapi perlu adanya social setting.

Menurutnya ketika permasalahannya adalah disabilitas, maka tidak cukup keterapian fisik hanya dikerjakan di rumah sakit. Tetapi harus juga ada social setting, yang artinya keterapian fisik ini bekerja di Kementerian Sosial yang khususnya menangani anak-anak disabilitas yang belum rampung terhadap gerak dan fungsinya.

Social setting, katanya, berguna untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas. Caranya dengan mewujudkan independensi atau kemandirian para penyandang disabilitas supaya dia bisa mandiri.

Oleh karenanya, Terapis Wicara dari Sentra Efata Kupang, Supardi ikut menambahkan jika pelatihan kolaboratif ini penting dilakukan, karena sangat membantu terapis agar lebih komprehensif dalam penanganan penerima manfaat.

Supardi berharap pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) dan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta ini bisa membuat para terapis lebih siap.

“Bisa makin siap dan berani dalam menangani berbagai kasus di masyarakat, terutama penyandang disabilitas anak,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here