Beranda Uncategorized Hasto PDIP Ingatkan Pesan Bung Karno agar Kampus Jadi City of Intellect

Hasto PDIP Ingatkan Pesan Bung Karno agar Kampus Jadi City of Intellect

188
0

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan, kehadirannya di kampus bertujuan mengingatkan kampus-kampus di Indonesia untuk menjadi city of intellect sebagaimana yang disampaikan Presiden Pertama RI Soekarno atau Bung Karno.

Hal ini disampaikan Hasto saat memberikan kuliah umum berjudul “Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Ekonomi Hijau dan Digital Menuju Indonesia Emas 2025” di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya, Jawa Timur, Jumat (25/2/2022).

Dalam kesempatan itu, turut hadir Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri yang juga pemateri bersama Rektor Unesa, Nurhasan dan sejumlah kepala daerah wilayah Jawa Timur termasuk Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

“Jadi kami datang ke kampus-kampus bersama Prof Rokhmin. Sejak tahun 1953 sejatinya Bung Karno sudah menegaskan kampus harus menjadi city of intellect, kampus harus menjadi pusat pengembangan peradaban Indonesia. Di dunia kampus inilah supremasi ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi infrastruktur terpenting bagi kemajuan Indonesia Raya,” kata Hasto.

Hasto mengingatkan perjuangan Soekarno yang bisa melepas belenggu kolonialisme. Namun, kata dia, semua dirusak ketika Orde Baru kembali melakukan kolonialisasi dengan begitu mudah memberikan sumber daya alam ke asing.

“Kalau Bung Karno melakukan dekolonialisasi, zaman Orde Baru terjadi rekolonialisasi kembali. Hutan kita dibabat, kekayaan alam kita diberikan, padahal saat Soekarno bertemu Eisenhower Presiden Amerika Serikat mengatakan, biarkan anak-anak muda Indonesia yang kami kirim ke luar negeri nanti yang akan membangun Indonesia dengan cara-cara berdikari,” ungkap Hasto.

Hasto pun mengajak generasi muda untuk belajar dari Bung Karno dan M Hatta yang merupakan sosok pembelajar, sosok pemimpin yang negarawan dan sosok yang tidak pernah menyerah. Bahkan, kata Hasto, mereka hanya tidur rata-rata empat sampai lima jam per hari sehingga bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan.

“Maka dosa besar bagi kampus, bagi perguruan tinggi jika kita tidak mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan semangat berdikari,” tegas Hasto.

Dia menegaskan hal-hal yang disampaikannya seusai fakta, kajian akademis dan tidak berbicara dalam politik praktis.

“Jika dikit-dikit kita tergantung dengan asing, itu bertentangan dengan khitah perguruan tinggi. Jadi ini yang harus kita gelorakan,” tambah Hasto.

Dalam kesempatan itu, Hasto mengingatkan peran perguruan tinggi atau kampus dalam menerapkan ekonomi hijau, yakni penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian riset dan inovasi.

“Riset dan inovasi macam apa? Riset dan inovasi yang berguna bagi kehidupan, riset dan inovasi yang membangun peradaban, riset dan inovasi yang bisa diaplikasikan bagi kepentingan rakyat,” jelas dia.

Selain itu, Hasto mengingatkan pentingnya untuk melakukan kaderisasi kepemimpinan mahasiswa.

“Pemimpin-pemimpin nasional lahir dari dunia kampus, maka perguruan tinggi harus menjadi pusat pengemblengan bagi calon-calon pemimpin bangsa 25 tahun yang akan datang,” kata Hasto.

Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri mengatakan dirinya bersama Sekjen PDIP sedang merancang kunjungan ke kampus-kampus. Hal ini mengingat ekosistem kemajuan dimulai dari kampus.

“Setelah Unesa, akhir pekan ini kami berencana berkunjung ke Kampus Syiah Kuala di Banda Aceh,. Nanti juga dilanjutkan dengan kampus lainnya” kata Rokhmin.

Sementara itu, Rektor Unesa, Nurhasan menyampaikan kiprah perguruan tinggi adalah menyiapkan generasi emas dan unggul yang akan memimpin Indonesia saat berusia 100 tahun.

“Generasi emas yang kita siapkan harus menjadi generasi yang tangguh dan unggul. Harus berprestasi namun harus dilandasi dengan fondasi ideologi kuat karena tantangan nasionalisme semakin berat. Mereka lahir di era teknologi informasi di mana cara pandang berbangsa berbeda dengan kita,” kata dia.

Nurhasan juga menyampaikan, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menyelamatkan generasi emas dari kesalahan atas sesat pikir mengenai bangsanya.

“Nilai instrumental yang berbasis ideologi Pancasila, seperti integritas, etos kerja dan gotong royong perlu ditanamkan secara mengakar dan membumikan nasionalisme di setiap dada para generasi emas ini,” kata Nurhasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here