Beranda Berita Solusi Gibran Saat Pedagang Mengeluh Pasar Tradisional Solo Sepi Akibat Pandemi

Solusi Gibran Saat Pedagang Mengeluh Pasar Tradisional Solo Sepi Akibat Pandemi

347
0

Calon Wali Kota Solo nomor urut 1, Gibran Rakabuming Raka melakukan dialog dengan para pedagang pasar terkait permasalahan selama pandemi, Gibran banyak Menerima keluhan dari para pedagang terkait anjloknya omzet selama Pandemi Corona.

Gibran menuturkan, yang pertama harus dilakukan adalah penerapan protokol kesehatan di kalangan pedagang maupun pengunjung pasar. Dengan demikian para pembeli merasa aman ketika harus berbelanja.

“Soal omzet menurun semua pasar mengalami. Yang bisa kita lakukan adalah memperketat protokol kesehatan di tiap-tiap pasar. Pasar itu pusat kegiatan produktif, jangan sampai tutup karena ada pedagang yang positif Covid-19,” ujar Gibran, semalam.

Gibran menyebut, penularan Covid-19 berpotensi terjadi saat transaksi. Untuk itu dia meminta pedagang dan pembeli lebih waspada dan berhati-hati. Putra sulung Presiden Joko Widodo ini mengusulkan transaksi non tunai untuk menghindari penularan Covid-19.

“Saya mengajukan usulan, kan sudah ada e-retribusi, kalau pembayarannya cashless itu bapak-Ibu siap atau tidak? Ini dari pemerintah akan lebih bisa mengontrol PAD. Jadi kita tidak kalah dengan mal-mal,” kata Gibran yang diiyakan oleh para pedagang.

Selain penerapan protokol kesehatan yang ketat, Gibran memiliki ide menggelar acara dan pemberian kupon pada pembeli pasar. Menurutnya, hal tersebut sudah dilakukan Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

“Kita akan godok lagi event-nya seperti apa, sehingga pasar kembali ramai pembeli, roda ekonomi bisa berputar kembali,” ucap Gibran

Diskusi itu juga membahas upaya mencari jalan tengah mengenai pemberdayaan pasar tradisional. Menyusul rencana Pasar Kabangan dan Pasar Jongke yang akan digabungkan menjadi satu area dan dibangun berlantai dua yang menuai keberatan pedagang.

“Ini dulu memang Pasar Kabangan mau dijadikan satu sama Pasar Jongke karena pemerintah ingin menggenjot pariwisata di Kampung Batik Laweyan. Kita terkendala untuk mendatangkan bis-bis pariwisata ke situ, gak ada parkirnya. Menyatukan 2 pasar ini juga tidak mudah, karena lahan terbatas. Harapannya kita bisa diskusi lagi, cari solusi yang terbaik,” ucap pria lulusan MDIS itu.

Sementara itu, perwakilan pedagang Pasar Jebres mengeluhkan pedagang liar yang berjualan di luar pasar. Hal yang sama juga dialami oleh pedagang di Pasar Sibela Mojosongo hingga menyebabkan macet dan kumuh.

“Nanti aturan kita perketat. Saya perhatikan memang ketika Satpol PP bergerak, pedagang tertibnya hanya sehari-dua hari, kemudian balik berjualan lagi di tempat yang sama,” kata Gibran.

Selain itu, tak sedikit pedagang yang mengeluh ketika bangunan pasar sudah direnovasi malah berakibat sepi, terlebih di lantai dua.

“Sudah saya catat soal keluhan ini, mungkin yang bisa jadi percontohan adalah Pasar Harjodaksino. Seharusnya layout pembangunan pasar bisa lebih dirapikan lagi, sehingga tidak dua lantai. Ini butuh dialog khusus, harus ada win-win solution jangan sampai ada yang dirugikan,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here